Another piece of story from Jesse (@babanyakayril), inspired by my 365doodling Day 293/365. This time in bahasa Indonesia.
“Canal”
Mereka selalu bertemu di sini. Di sisi kanal yang sama, sepuluh meter dari jembatan yang sama, di bawah lampu yang sama, di tanggal yang sama, di jam yang sama, bahkan mungkin sekali di menit dan detik yang sama. Selalu.
Tidak sering, memang. Hanya setahun sekali. Tidak seperti kalian yang bila seminggu saja tidak berjumpa akan blingsatan seperti cacing kepanasan. Tetapi pertemuan yang jarang dilakukan justru yang lebih berarti daripada yang kerap dikerjakan, bukan?
Setahun sekali.
Awalnya sih, lebih dari setahun sekali. Malah mungkin seminggu sekali atau lebih. Tempatnya pun berbeda-beda. Kadang di kanal ini, kadang di restoran, dan saya yakin seringkali mereka rendez-vous di bioskop.
Yang laki-laki saya tidak begitu tahu dengan pasti. Namanya Bram, atau Anton, atau Budi, saya pun tak tahu. Tidak penting. Apakah dia pekerja kantoran, jaga warung, atau pengangguran, saya juga tak tahu. Sekali lagi: tidak penting.
Yang penting adalah si perempuan. Namanya—ah, kali ini biarkanlah saya memakai istilah ‘tidak penting’ semata-mata karena saya tidak ingin berbagi kenangan akan indahnya nama perempuan ini dengan kalian. Cukup kalian mengetahui bahwa kami berasal dari kampung yang sama, bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama—meskipun terpaut 10 tahun—dan bahwa saya cukup mengenalnya dengan akrab. Cukup akrab sehingga saya tahu bahwa ia punya tahi lalat yang ia sangat benci di bawah payudara kirinya. Tahi lalat itu ia anggap kurang sedap dipandang, namun ia takut meminta dokter untuk mengangkat tahi lalat itu karena ia berbakat keloid dan ia khawatir keloid yang akan terjadi bila operasi kecil itu dilaksanakan akan terlihat lebih buruk daripada tahi lalat itu sendiri.
Dari mana saya bisa tahu sedetil itu? Mudah saja: kami menikah. Sitti Nurbaya style. Heheh. Heheheheh. Heheheheheheheheh.
Dan kami berbahagia. Well, paling tidak salah satu dari kami berbahagia.
Heheh.
Sampai Si Bajul Buntung itu datang dan mencoba merenggutnya dari saya. Dia—tunggu. Tunggu sebentar. Sudah waktunyakah?
Ah, ya. Mereka memang tepat waktu. Prosesnya selalu sama, si perempuan tampak dikagetkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang si laki-laki, yang kemudian menoleh, berteriak tanpa suara, lalu menghilang. Kemudian si perempuan tampak bertengkar dengan seseorang, meronta, terbanting, lalu diam dan perlahan menghilang pula.
Dan mereka akan muncul lagi tahun depan di tanggal yang sama, tempat yang sama dan waktu yang sama.
Dan pemandangan yang sama akan tampak lagi di hadapan saya. Sudah empatbelas tahun saya selalu melihat peristiwa itu berulang lagi, lagi dan lagi.
Entah apa yang memaksa saya untuk kembali lagi ke sini empat belas tahun yang lalu. Entah apa yang membuat saya lantas memilih persembunyian ini untuk mengawasi tempat kedua sejoli keparat itu meregang nyawa. Yang jelas, saat pertama kali saya melihat mereka saya merasakan sakit yang amat sangat di dada ini. Kemudian semuanya gelap. Mungkin ini hukuman bagi saya yang telah menghabisi nyawa mereka limabelas tahun yang lalu?
Entahlah, yang pasti saya berharap belulang saya ditemukan lebih dahulu dari belulang mereka.
Saya lelah.
This perticular doodling I did made Jesse did a writing, inspired by this:
They say once the door is closed you can never open it. Hell, there are only a precious few of them who can see it.
“It is of no importance,” they say.
“We are better off in the comfort of the darkness,” they argue.
“Come and sit with us. Tell us your story,” they plea.
And so they are huddled together in the absolute darkness. Waiting for something that they are not even sure is coming. For the end, maybe? For reprieve? No one knows. They kill time by telling each other stories. Childhood stories, love stories, tragedies, comedies, horrors, stories of and about everything.
But one day (as far as he can discern. It is hard to keep track of time in the darkness) he saw the door, and he was sure that this was the same door through which he came to this absolute darkness. Bright light from beyond it highlighted its frame and dissipated the darkness, albeit just a little.
He heard something from beyond the door. Voices. Familiar voices that he could not quite place his finger at.
He stood up.
“Where are you going?” “Stay with us.” “Please, Sir. Don’t leave us.” “Watch it, Youngster! That was my fingers you stepped on.”
“I’m sorry,” he said, ignoring their pleas, “but I must do this.”
And he walked to the door. The voices beyond the door became louder, and he could hear snippets of conversations and laughter. He groped for the handle and gave the door a push.
It opened.
They were sitting around the dinner table, discussing the events of the day. The younger one—a girl of nine or ten—was describing a particularly funny event that happened at school concerning a boy and a pet ferret when she saw him. She stopped in midsentence and her eyes widened. The two adults who had been listening attentively to her story turned their heads. Somebody dropped a fork.
“Daddy?” she whispered in horror.
He smiled.
They screamed.
(via 365doodling)
333 days out of 365 days. 32 days more to complete 365doodling.tumblr.com project. – View on Path.
Healthy bite. #doodling – View on Path.
Trying to catch the sunset sky from my window. #doodling – View on Path.
Omnom. – View on Path.
Udonized. #doodling with Jonathan and Aldo – View on Path.
3x1. Daily. After meals. #doodling – View on Path.
Yaaaaa….. Jadi apa? with Aldo – View on Path.
Digambar untuk Raia yang lagi ulang taun. Request dari Lia. Dibayar kue aja deh, nanti dikirim ke mccann abis taun baru. Abis gue ga punya tarif bayarannya ngegambar orang berapa. – View on Path.
with Aldo – View on Path.














