
Kamar api, dilihat dari jacuzzi.
My first mixtape using 8tracks :D inspired by my trip to Phuket.
Senin 3 oktober 2011; it always good to be home.
Hari dimana ia meninggalkan Phuket untuk kembali ke Jakarta.
Sang surya seolah ngambek dan langit menangis ketika ia meninggalkan tempat yang sudah meninggalkan kesan dalam di hatinya beberapa hari terakhir ini.
“Kaphun kaa…come back again”, ujar Khun Ying, kepala rumah tangga berikut sahabat barunya yang sudah membelikan ia charger BB.
Entah kapan, ujarnya dalam hati. Tapi semisalnya tak akan pernah pun, ia bersyukur sudah pernah ke sini.
Perjalanan ke airport cukup membuat stress dengan banjir dan kemacetan. Setelah huru-hara check in, akhirnya ia bisa bernafas lega karena tidak ketinggalan pesawat.
Ketika transit di Changi, keberuntungan kembali menghampiri dirinya karena ia bisa mencicipi nikmatnya menunggu di lounge singapore airlines. Sayang tak bisa berlama di sana, karena ada beberapa hal yang harus ia beli.
Dan setelah menjejakan kakinya kembali di tanah Betawi, ia tahu benar bahwa ia akan selalu kangen dengan hari-harinya di pulau mungil itu.
Tapi bagaimanapun, it always feels good to be home again.
Minggu 2 oktober 2011; arti ‘kaya raya’ yang sesungguhnya
Hari keempat di Phuket.
Hari ini kembali ia merindukan air garam.
Namun sebelum itu terjadi, ia dihibur oleh drama jacuzzi, yang terdiri dari kebingungan memencet tombol yang mengakibatkan semburan-semburan yang tidak pada tempatnya.
“Jauh lebih gampang menggunakan jacuzzi di sims social”, demikian pikirnya pada saat itu.
Hari ini ia ingin merekam semua detail design yang didedikasikan pada tempat ini. Yang membuat ia bangun lebih pagi dari yang lain agar bisa memotret semua sudut yang telah mencuri nafasnya dari sejak pertama ia tiba di sini.
Dan menjelang matahari terbenam, ia mengunjungi Kata Beach yang terletak kurang lebih setengah jam berkendaraan mobil dari tempatnya menginap.
“Wow…seperti Kuta, mirip pula namanya”, demikian pikirnya ketika ia tiba di sana.
Pantai dengan ombak yang tinggi dan ramai oleh para surfer.
Ia tidak bisa surfing, tapi ketinggian ombak merayunya untuk mencoba. Maka disewanya sebuah papan selancar mungil bernama buggyboard untuk bodysurf.
Satu hal yang ia pelajari adalah cara paling gampang menghadamg ombak yang memecah adalah menyelam di bawahnya. Dan ketika ombaknya cukup bagus untuk “dikendarai”, ya tinggal mengikuti ombak tersebut.
Pelajaran pertama dimulai dengan teriakan “under!” dan “ride!” dari instrukturnya. Walau kehabisan nafas, ia tetap bersemangat untuk melanjutkan ke sesi kedua. Hingga akhirnya ia memutuskan bahwa suatu saat ia akan mencoba belajar surfing. Entah kapan, tapi pasti akan.
Ketika sang surya tenggelam di balik kerumunan awan, ia menikmatinya. Sang surya telah dengan kejam membakar kulitnya selama di sini. Tapi ia tak keberatan.
Yang ia pikirkan cuma menu makan malam nanti. Perutnya sudah lapar lagi.
Dan seperti menutup lingkaran, makan malam kali itu terdiri dari ayam masak mint (laab ghai) persis seperti malam pertamanya di sini. Ditutup dengan lime pie yang meleleh di mulut saking lezatnya.
Ia pun tidur dengan kesadaran bahwa besok adalah saatnya untuk kembali ke kehidupan nyata keseharian.
Tapi ia puas. Hidup telah berbaik hati padanya akhir-akhir ini. Ia merasa dirinya menjadi orang paling beruntung sedunia.
Dan itu, adalah makna dari kaya raya yang sesungguhnya.
Terlepas dari angka yang tertulis di slip gaji kita semua.
Sabtu 1st october 2011; ketika akirnya ia melihat pantai
Hari ketiga di Phuket.
“Jadi kapan kita akan melihat pantai yang sesungguhnya?”, adalah pertanyaannya ketika hari itu dimulai dengan sarapan simple yang sangat ia nikmati dan sesi yang lumayan melelahkan di pinggir kolam yang disiram sinar matahari Phuket.
Pertanyaannya terjawab di sore hari. Hari itu ia akan melihat pantai yang lebih dari sekedar tangga yang turun ke air berbatu yang terletak di bawah villa tempat ia tinggal.
Sri Panwa beach resort terletak di area yang sama dengan villa tersebut, bernama Cape Panwa. Hal pertama yang ia pikirkan ketika memasuki tempat itu adalah Sanur Bali Beach.
“Hotel tua ini dimiliki oleh anak perempuan Raja Thailand”, demikian penjelasan tour guide. Tempatnya terlihat old school tapi terawat rapih. Pantainya berpasir putih lembut dengan air laut yang tenang tanpa ombak.
Maka dihamparkannya handuk di depan sebuah restoran berbentuk rumah lama dengan eksterior yang lucu, dikeluarkan buku yang tengah ia baca beserta sunnies, dan berbaringlah ia dengan damai sambil mendengarkan deburan ombak. Selingan baginya adalah ketika ia berenang di laut yang jernih dengan pasir putih yang kontras dengan kegosongan kulitnya akibat terbakar matahari.
Menjelang sore, perutnya menjerit kelaparan. Maka tujuan berikunya adalah cafe di area terdekat. Terletak di pinggir jalan raya, masih di area yang sama, di mana ada sebuah pedestrian rapi yang dibangun sepanjang pantai dengan banyak sign “Phuket aquarium” terpancang di situ.
Cafe yang dipilih bukan karena makanannya melainkan karena tv datar yang sedang menampilkan pertandingan rugby yang diminati beberapa orang temannya. Baiklah, sore ini ia mengalah. Tapi makan malam kali ini harus sesuatu yang bisa perutnya nikmati.
Keinginannya terkabul. Makan malam di hari ketiga itu dilakukan di sebuah restoran mewah yang merupakan bagian dari Hotel Sri Panwa. Atmosfernya mengingatkan ia pada Kudeta, Bali. Dengan tempat duduk yang terletak di antara kolam jernih berdasar batu dan pemandangan ke teluk. Menu utama terdiri dari kombinasi sushi dengan thom kha ghai dan nasi. Serta mojito yang luar biasa enaknya.
Malam itu kembali diakhiri di pinggir kolam, dengan kebersamaan dan musik rok en rol serta berenang di malam hari.
Gue pamer ya?
Bhahahak. Memang iya. Seperti yang pernah gue tweet, tipis sekali bedanya sharing dengan pamer, laksana berwawasan dengan enggak ganteng :))

A glimpse of SQ lounge in terminal 2, Changi.

Di hari saya meninggalkan Phuket, langit mendung seolah menangis.

Satu lagi foto sunset yang unyu, dilihat dari pinggir kolam.

Jacuzzi, anyone?

Dinding mozaik dan lukisan ikan lucu di “water room”.

“will you still love me tomorrow?”

Sunset yang unyu di Kata Beach, Phuket.

Di bawah payung warna-warni.